Tags

,

Belakangan ini, sejak akhir tahun 2011, di kota Bogor ramai sekali gerobak gerobak yang menjual makanan tutut. Hmm… Apa sih tutut itu? Awalnya aku tidak tahu sama sekali tentang tutut. Tapi kemudian aku mendapat informasi tentang tutut dari teman-teman dan juga suamiku. Tutut adalah makanan khas Bogor. Tutut atau yang biasa disebut keong atau bahasa kerennya Bellamya Javanica atau Viviparus Javanica adalah hewan bercangkang kerucut yang hidup di genangan sawah pada batang-batang padi.

Tutut bumbu kari

Konon, katanya tutut ini dapat menyembuhkan penyakit kuning atau liver. Tutut juga dapat menambah nafsu makan dan meningkatkan stamina tubuh. Hal ini dikarenakan kandungan protein yang cukup tinggi yang terdapat dalam tutut.

Penasaran ingin mencoba makanan tutut? Di Bogor, pada awalnya makanan tutut ini banyak dijual di sepanjang Jalan Ring Road Yasmin atau Jalan Abdullah Bin Nuh. Tapi belakangan ini hampir di setiap jalan di Kota Bogor dapat dijumpai penjual tutut. Tutut ini dijual dengan menggunakan gerobak-gerobak, namun ada pula yang dengan menggunakan mobil.

Tutut tersebut diolah dengan bumbu kari atau saus tiram. Harganyapun berbeda. Satu porsi (1 mangkuk) tutut bumbu kari dijual dengan harga Rp 3000. Sedangkan untuk tutut saus tiram satu porsinya (1 mangkuk) dihargai Rp 5000.

Salah satu gerobak yang menjual tutut di Bogor

Para pembeli dapat menikmati tutut tersebut sambil lesehan di pinggir jalan karena sudah disediakan tikar untuk duduk sambil menikmati susana kota. Tapi pembeli juga bisa membawa pulang tutut tersebut dengan dibungkus plastik atau gelas plastik.

Yang menarik perhatian adalah, gerobak-gerobak yang menjual tutut tersebut diberi nama yang lucu-lucu. Para pedagang tersebut sepertinya saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian para pembeli. Ada yang diberi nama Tutut Serudut Asooooy, Tutut kenyot Teruuuz, Tutut Asoy Geboy, Sedot Tutut, Tutut Kraca, bahkan ada pula yang diberi nama Tutut Pak Harto.

Hmm… yang menarik perhatianku adalah kenapa harus diberi nama dengan kata-kata serudut, kenyot, sedot. O lala, ternyata untuk memakan tutut ada teknik tersendiri yaitu dengan mencongkel daging tutut yang tersembunyi di dalam cangkang dengan tusuk gigi atau dengan menyedotnya hingga keluar hahaha. Mungkin disitulah seni memakan tutut, sehingga banyak orang yang senang dan asyik memakannya.

Dilihat dari para pembeli yang sampai harus mengantre untuk membelinya, dan semakin menjamurnya penjual tutut, dapat dipastikan banyak sekali peminat makanan ini. Mungkin dikarenakan rasanya yang memang lezat, atau karena melihat khasiatnya. Namun, tak dapat dipungkiri juga banyak orang yang tidak suka atau merasa geli ataupun jijik untuk memakannya yang mungkin dikarenakan dari fisiknya yang memng menurut sebagian orang menjijikkan ataupun dari tempat hidupnya. Hmm… bagaimana dengan anda?

Advertisements