Tags

Hari Rabu, sekitar jam 12.45 aku dapat telpon lewat hp ku yang ada di dalam tas. Biasanya tas itu kutinggal aja di meja kantor, jadi kadang suka ada miss kalau ada yang telpon. Nomor itu tidak ku kenal, tapi itu nomor area tempat tinggalku.

“Hallo, saya Mama Faris, anak ibu ada di rumah saya…” Mendengar suara itu aku jadi syok, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku langsung teringat anakku yang sekolah di TK B di komplek perumahanku. Ibu itu meneruskan pembicaraannya, “tadi waktu saya jemput anak saya, di sekolah sudah sepi, anak ibu mau jalan kaki sendiri pulang, saya takut terjadi apa-apa, jadi saya ajak ikut saya pulang ke rumah saya. Rumah saya di Blok M No. 29. Sekarang anak ibu lagi main sama anak saya. Saya hanya mau memberitahukan ibu takutnya ibu nyari-nyari anak ibu.”

Mama Faris….? Teman sekelas anakku tidak ada yang namanya Faris!  dan anakku juga tidak pernah bercerita tentang Faris. Blok M…? di mana itu lokasinya, aku tidak tahu. Aku jadi teringat berita-berita tentang penculikan anak…Oh anakku..

Tapi aku berusaha untuk tetap tenang, aku langsung menelpon si mbak yang biasa menjemput anakku. Tapi apa yang terjadi, hpnya tidak aktif. Trus ku telpon rumah, yang menjawab anakku yang berumur 4 tahun, dia bilang si mbak lagi jemput kakak.

Aku mulai panik, ku tahan air mataku agar tidak jatuh. Ini sudah hampir jam 1 siang, padahal hari rabu hanya sampai jam 11 siang. Ku telepon ke sekolah, tapi lama sekali tidak dijawab. Kemudian ku telepon Umi Heni guru TK itu tapi tidak aktif, ku telepon Umi Nia juga tidak aktif, kemudian ku telepon Umi Ranti tidak diangkat.

Teman-teman di kantor menyarankan aku pulang aja untuk mencari anakku. Bahkan beberapa teman ingin menemaniku mencari, tapi aku menolaknya karena aku tidak mau merepotkan siapapun, tapi aku bilang seandainya terjadi apa-apa aku akan telpon. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dan si ibu penelepon itu benar.

Saat di mobil, Umi Ranti balik menelopn aku, dia bilang kalau saat aku telpon tadi dia lagi sholat. Kemudian kuceritakan kejadian si ibu penelepon itu. Alhamdulillah Umi Heni mengenal Faris dan mau menjemput anakku.

Alhamdulillah sekitar 15 menit kemudian Umi Ranti kembali menelopn aku katanya sudah menjemput anakku dan mengantar pulang ke rumah.. What a relief…

Begitu sampai di rumah langsung ku peluk anakku, tapi dia seperti biasa aja, menciumku tapi tidak merasa ada kejadian apa-apa. Ku tanya si mbak kenapa hpnya tidak bisa dihubungi, katanya dia udah ganti nomor hp.. Dan dia tadi juga panik keliling-keliling mencari anakku. Dia tidak berani menelopn aku.

Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Hanya yang aku herankan, si mbak merasa tidak telat menjemput. Dan biasanya dari pihak sekolah juga meneponku kalau anakku belum dijemput. Tapi sudahlah, mudah-mudahan ini tidak terulang lagi. Dan Aku juga mewanti-wanti si mbak agar jangan sampai mematikan hp dan memberi tahuku kalau ganti nomor hp. Dan yang penting jangan sampai telat menjemput anakku.

Advertisements