Hari itu aku terburu-buru mengemas propertiku di kantor, aku ingin segera pulang karena aku teringat anak-anakku di rumah yang diasuh oleh neneknya. Pengasuh anakku sedang pulang ke kampung karena dilamar oleh tukang bangunan yang beberapa bulan terakhir ini bekerja merenovasi rumah tetangga sebelahku.

“Bu, mau pulang ya?” Tanya bu Haji Neneng seniorku sambil tersenyum ramah melihatku mengemasi barang-barangku.

“Iya bu, si embak lagi pulang kampung, jadi anak-anak saya diasuh sama neneknya..” jawabku dengan sedikit memelas.

“Oh..ya udah cepet pulang sana, jangan sampai orang tua melahirkan majikan!” kata Bu Neneng dengan tegas.

Mendengar itu aku langsung tersentak, dan aku bertanya lagi lebih jauh.

“Maksudnya apa, Bu?

“Jangan sampai ibu kita masak, nyuci…”

Aku segera memotong “Tapi kalau kita nggak sempat masak gimana, Bu . Kan kita kerja?”

“Beli!” tegas Bu Neneng.

Oh, apa yang dikatakan Bu Neneng benar sekali. Saya benar-benar sudah diingatkan oleh Bu Neneng. Terimakasih Bu.

“Jangan Sampai Orang Tua Melahirkan Majikan…”Kalimat itulah yang terngiang-ngiang di telingaku sepanjang perjalanan menuju rumah. Sambil menyetir mobilku, hampir setengah dari konsentrasiku hanya terfokus pada kalimat itu. Aku jadi teringat pada mertuaku yang sedang mengasuh anakku di rumah.

Hari ini aku masih membayangkan ibu mertuaku yang sedang mengasuh anak-anakku di rumah, memandikan mereka, menyuapkan makan mereka, mengantar sekolah… Terimakasih bu, hatimu sungguh mulia. Engkau melakukan semuanya dengan penuh cinta kasih tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kami. Entah bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu, Ibu..

Advertisements